belajarjawa.com – Salah satu ciri paling khas Bahasa Jawa modern adalah adanya sistem unggah-ungguh basa atau tingkatan tutur, seperti ngoko, madya, dan krama. Sistem ini bukan sekadar variasi kosakata, melainkan refleksi struktur sosial, etika, dan filosofi masyarakat Jawa.
Namun, sistem unggah-ungguh tidak muncul secara tiba-tiba. Dalam sejarah bahasa Jawa, terutama pada masa Jawa Kuno (Kawi), sistem tingkatan tutur belum berkembang seperti sekarang.
Artikel ini membahas secara historis dan sosiolinguistik bagaimana unggah-ungguh muncul, berkembang, dan menjadi identitas utama Bahasa Jawa modern.
Jawa Kuno: Bahasa Tanpa Sistem Tingkatan Formal
Pada masa Jawa Kuno (abad ke-9 hingga ke-15), bahasa yang digunakan dalam prasasti dan kakawin relatif tidak mengenal sistem tingkat tutur seperti ngoko dan krama.
Ciri-ciri penting:
- Bahasa bersifat sastra dan religius
- Dipengaruhi kuat oleh Sanskerta
- Tidak ditemukan sistem sosial linguistik berlapis seperti sekarang
Perbedaan status sosial lebih ditunjukkan melalui gelar dan kosakata kehormatan tertentu, bukan melalui sistem tutur yang sistematis.
Contoh:
rāma (ayah), bhāsa (bahasa), dharma (kebenaran)
Ini menunjukkan bahwa unggah-ungguh belum menjadi sistem linguistik formal pada masa Kawi.
Masa Transisi Jawa Tengahan: Awal Diferensiasi Sosial Bahasa
Pada masa Jawa Tengahan (abad ke-15 hingga ke-17), terjadi perubahan besar dalam struktur sosial Jawa:
- Runtuhnya Majapahit
- Masuknya Islam
- Munculnya pusat kekuasaan baru (Demak, Pajang, Mataram)
Pada fase ini mulai muncul diferensiasi bahasa antara kalangan elite dan rakyat, meskipun belum sepenuhnya sistematis seperti ngoko–krama modern.
Bahasa mulai mencerminkan hierarki sosial yang lebih tegas.
Baca juga: Timeline Visual Evolusi Bahasa Jawa
Peran Kesultanan Mataram dalam Pembentukan Unggah-Ungguh
Perkembangan unggah-ungguh yang paling signifikan terjadi pada masa Kesultanan Mataram (abad ke-17).
Faktor Kunci:
A. Struktur Feodal yang Kuat
Masyarakat Jawa tersusun dalam hierarki:
- Raja
- Bangsawan
- Priyayi
- Rakyat biasa
Hierarki ini membutuhkan sistem bahasa yang mencerminkan perbedaan status.
B. Keraton sebagai Pusat Standarisasi
Keraton Surakarta dan Yogyakarta menjadi pusat kodifikasi bahasa halus (krama).
Bahasa krama berkembang sebagai bahasa sopan dan resmi.
Pembentukan Sistem Ngoko dan Krama
Secara historis, sistem unggah-ungguh berkembang dari kebutuhan sosial untuk:
- Menunjukkan hormat
- Menjaga harmoni
- Menghindari konflik
- Menegaskan struktur sosial
Ngoko
Digunakan untuk:
- Teman sebaya
- Anak-anak
- Situasi informal
Krama
Digunakan untuk:
- Orang yang dihormati
- Situasi formal
- Interaksi vertikal (bawah → atas)
Krama Inggil
Kosakata khusus untuk menghormati pihak lain.
Contoh:
mangan → nedha (krama)
turu → tilem
Pengaruh Budaya Jawa terhadap Sistem Bahasa
Unggah-ungguh tidak dapat dipisahkan dari nilai budaya Jawa seperti:
- Andhap asor (rendah hati)
- Tepa slira (tenggang rasa)
- Rukun (harmoni sosial)
- Ajining diri saka lathi (harga diri dari ucapan)
Bahasa menjadi instrumen etika.
Sistem unggah-ungguh bukan sekadar linguistik, tetapi juga moral.
Faktor Agama dalam Penguatan Sistem Hormat
Masuknya Islam turut memperkuat budaya hormat kepada:
- Orang tua
- Guru
- Ulama
- Pemimpin
Nilai sopan santun semakin menguat dan mempengaruhi sistem bahasa.
Namun perlu dicatat, unggah-ungguh bukan semata produk Islam, melainkan hasil akumulasi nilai feodal dan budaya Jawa.
Kodifikasi dan Standarisasi di Era Kolonial
Pada masa kolonial Belanda, bahasa Jawa mulai diteliti dan didokumentasikan.
Bahasa krama dan ngoko mulai dibakukan dalam kamus dan buku tata bahasa.
Pendidikan formal memperkuat struktur unggah-ungguh sebagai norma resmi.
Perkembangan Unggah-Ungguh di Era Modern
Di era modern:
- Sistem unggah-ungguh tetap dipertahankan
- Namun terjadi penyederhanaan dalam praktik sehari-hari
- Ngoko lebih dominan di media sosial
- Krama cenderung digunakan dalam acara formal
Perubahan sosial menyebabkan fleksibilitas dalam penggunaannya.
Analisis Sosiolinguistik
Unggah-ungguh adalah contoh sistem bahasa berbasis stratifikasi sosial.
Dalam teori sosiolinguistik, ini disebut sistem diglosia atau variasi sosial bahasa.
Bahasa Jawa memiliki:
- Ragam rendah (ngoko)
- Ragam tinggi (krama)
Namun berbeda dari bahasa lain, sistem ini sangat kompleks dan sistematis.
Apakah Unggah-Ungguh Produk Feodalisme?
Pertanyaan ini sering muncul.
Secara historis:
Ya, unggah-ungguh berkembang kuat dalam sistem feodal.
Namun secara budaya:
Unggah-ungguh juga mencerminkan filosofi harmoni dan etika sosial Jawa.
Dengan demikian, sistem ini adalah kombinasi antara struktur kekuasaan dan nilai budaya.
Perbandingan Sebelum dan Sesudah Unggah-Ungguh
| Periode | Sistem Tingkatan |
|---|---|
| Jawa Kuno | Belum sistematis |
| Jawa Tengahan | Awal diferensiasi |
| Mataram | Sistem lengkap terbentuk |
| Modern | Sistem bertahan & adaptif |
Baca juga: 3 Fase Evolusi Bahasa Jawa Kawi, Tengahan, Modern
Unggah-ungguh dalam Bahasa Jawa tidak muncul sejak awal sejarahnya, melainkan berkembang secara bertahap, terutama pada masa Kesultanan Mataram ketika struktur sosial feodal menguat. Sistem ini kemudian diperkaya oleh nilai budaya seperti andhap asor dan tepa slira, hingga menjadi ciri utama Bahasa Jawa modern.
Unggah-ungguh adalah refleksi peradaban Jawa: bahasa sebagai cermin struktur sosial sekaligus etika kehidupan.
Bahasan selanjutnya: Sejarah Lengkap Unggah-Ungguh Basa Jawa






