belajarjawa.com – Njingkrung adalah posisi tidur meringkuk dengan lutut ditekuk, sementara tubuh miring ke salah satu sisi, baik ke kiri maupun ke kanan.
Posisi ini mirip dengan posisi janin (fetal position) dalam istilah modern, yaitu tubuh tidak terlentang dan tidak tengkurap, melainkan menyamping dengan kaki ditekuk.
Ciri-Ciri Posisi Njingkrung
- Tidur dalam posisi miring.
- Kedua lutut ditekuk.
- Kaki ditarik mendekati perut.
- Tubuh terlihat meringkuk.
- Bisa menghadap ke kiri maupun ke kanan.
Pelajari juga: Arti “Gligak-Gligik” tertawa kecil, cekikikan, atau menahan tawa
Contoh Penggunaan
Dalam Kehidupan Sehari-hari
- “Bocah kuwi turune njingkrung.”
(Anak itu tidurnya meringkuk.) - “Saka wingi dheweke turu njingkrung terus.”
(Sejak kemarin dia tidur meringkuk terus.) - “Nalika kademen, akeh wong turu njingkrung.”
(Saat kedinginan, banyak orang tidur meringkuk.)
Kapan Kata Njingkrung Digunakan?
Biasanya digunakan untuk menggambarkan:
- Posisi tidur anak kecil.
- Orang yang sedang kedinginan.
- Orang yang tidur di tempat sempit.
- Orang yang merasa kurang nyaman atau sedang kurang sehat.
Meski demikian, njingkrung tidak selalu menunjukkan sakit atau kedinginan; sering kali hanya menggambarkan kebiasaan tidur seseorang.
Pelajari juga: Arti “Nyrondol” Mengikuti Orang Lain Tanpa Diundang atau Tanpa Tujuan Jelas
Perbedaan Njingkrung dan Mledhing
| Kata | Makna |
|---|---|
| Njingkrung | Tidur meringkuk dengan lutut ditekuk |
| Mledhing | Membelakangi sambil membungkuk dan menonjolkan pantat sebagai bentuk pembangkangan |
Keduanya sama-sama berkaitan dengan posisi tubuh, tetapi konteks penggunaannya sangat berbeda.
Contoh Kalimat Lain
- “Kucinge turu njingkrung neng pojok.”
- “Merga hawa adhem, dheweke njingkrung ing kasur.”
- “Saben turu mesthi njingkrung.”
Njingkrung dalam Bahasa Jawa berarti tidur meringkuk dengan tubuh miring dan lutut ditekuk ke arah dada, baik menghadap ke kiri maupun ke kanan. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan posisi tidur yang menyerupai orang yang sedang meringkuk, baik karena kebiasaan, cuaca dingin, maupun alasan kenyamanan.
Terima kasih atas koreksinya. Dari serangkaian koreksi Anda, terlihat bahwa banyak kosakata Jawa yang Anda dokumentasikan merupakan istilah yang sangat spesifik untuk menggambarkan postur tubuh, perilaku, ekspresi, dan keadaan sehari-hari, sehingga ketepatan makna harus benar-benar berdasarkan penggunaan masyarakat, bukan sekadar perkiraan etimologis.
Pelajari juga: Arti “Mangkel” Jengkel, Kesal, dan Dongkol karena Perilaku Orang Lain






