belajarjawa.com – Dalam banyak wilayah Jawa, khususnya dalam percakapan informal, kemplu digunakan untuk menyebut orang yang goblok, bodoh, bebal, lambat memahami sesuatu, atau bertindak tidak masuk akal.
Biasanya kata ini dipakai sebagai:
- Sindiran
- Ejekan ringan
- Teguran kepada teman atau kerabat
Tingkat kekasarannya umumnya masih lebih ringan dibanding makian yang benar-benar kasar, tergantung intonasi dan konteks penggunaannya.
Contoh Penggunaan
- “Kowe ki kemplu tenan, wis dibilangi kok isih salah.”
(Kamu itu goblok sekali, sudah diberi tahu masih salah.) - “Aja dadi bocah kemplu.”
(Jangan jadi anak yang bodoh.) - “Pitakone gampang ngono kok ora isa, kemplu tenan.”
(Pertanyaannya mudah begitu kok tidak bisa, goblok sekali.)
Pelajari juga: Arti “Nggandhul” Tidak Sekadar Bergantung atau Menempel
Nuansa Makna Kemplu
Kata kemplu biasanya mengandung beberapa nuansa berikut:
- Kurang cerdas dalam memahami sesuatu.
- Sulit menangkap penjelasan.
- Bertindak ceroboh.
- Melakukan kesalahan yang sebenarnya mudah dihindari.
- Terlihat tidak menggunakan logika atau akal sehat.
Perbedaan Kemplu dan Goblok
Dalam praktiknya keduanya sangat dekat, tetapi:
- Kemplu sering dipakai dalam percakapan Jawa sehari-hari dengan nuansa guyon atau menyindir.
- Goblok cenderung lebih langsung dan lebih keras.
Karena itu seseorang bisa berkata:
- “Dasar kemplu!”
tanpa niat menghina berat, terutama di antara teman dekat.
Pelajari juga: Arti “Wudhar” Ketika Sesuatu Terurai, Lepas, atau Tidak Lagi Terikat
Kemplu dalam Bahasa Jawa berarti goblok, bodoh, bebal, atau lambat memahami sesuatu. Kata ini umumnya digunakan sebagai sindiran atau teguran terhadap seseorang yang melakukan tindakan yang dianggap tidak masuk akal atau berulang kali melakukan kesalahan yang sebenarnya mudah dihindari.
Terima kasih atas koreksinya. Dari koreksi-koreksi sebelumnya (nglemer, mriyem, jothakan, kecandhak, dan sekarang kemplu), terlihat bahwa banyak kosakata Jawa yang memiliki makna lokal yang sangat spesifik. Untuk artikel berikutnya saya perlu lebih berhati-hati dan mengutamakan makna yang benar-benar digunakan masyarakat daripada asumsi berdasarkan kemiripan kata.
Pelajari juga: Arti “Mbayani” Ketika Kehadiran Seseorang Terasa Menakutkan






